Grafis adalah sebuah bahasa untuk bicara. Dengan bentuk, warna, komposisi dan tipografi yang tercurah dalam kemasan visual yang kemudian mengantar pesan sang kreator. Banyak pesan yang tersampaikan dengan cara grafis kadang lebih mengena karena cara penyampaian visual kadang bisa langsung memberikan pemahaman kepada penerima pesan dibandingkan dengan cara berkomunikasi lewat artikel atau tulisan-tulisan panjang. Namun kadang juga visual akan menjadi sangat konyol bila dikerjakan dengan cara tak terkonsep dengan baik. Lalu bagaimana peran grafis dalam memberikan pesan damai di Aceh yang mana hari-hari belakangan ini semakin memanas menjelang pemilu 2009?
Tampaknya tidak semua pihak menginginkan damai akan abadi di Aceh, isu tentang Aceh akan ribut, ricuh dan kembali berlumur darah gencar terdengar disudut-sudut kota Banda Aceh. Isu ini sangat berbahaya karena ia secara psikologis akan memberikan respon ke alam bawah sadar masyarakat yang saat ini masih trauma dengan tragedi-tragedi yang pernah terjadi di serambi ini. Dalam keadaan seperti ini maka harus ada semngat bersama dalam diri kita untuk bertekad bahwa isu Aceh akan ricuh dan kembali dalam kancah pertikaian berdarah tidak boleh berkembang dan harus dihentikan. Salah satu cara adalah dengan menaburi setiap sudut kota dengan visual-visual yang mengajak untuk menjaga damai, merawat ketentraman dan memupuk persaudaraan.
Sebenarnya sudah begitu banyak poster, baliho dan elemen visual grafis lainnya yang beredar di Aceh, namun banyak yang terkesan asal jadi dan tidak dikerjakan dengan serius, jangankan bicara tentang kaedah-kaedah artistik, pada tahap pemilihan tag line dan tema saja sudah amburadul. Hal yang paling mudah untuk melihat apakah sebuah pesan visual itu komunikatif dan kreatif adalah dengan mencermati fokus pesan yang ingin disampaikan. Pesan tidak tumpang tindih. Sering kita melihat baliho dengan ukuran yang sangat besar dan terpampang di pusat kota dengan pesan yang begitu banyak dan bertumpuk-tumpuk, seakan si pemasang baliho merasa rugi bila hanya memasukkan satu pesan saja dalam baliho besar yang mungkin harus mengeluarkan biaya puluhan juta untuk menyewanya. Namun bila dicermati lebih jauh justru karena terjebak dengan takut rugi itulah akhirnya mengambil langkah yang keliru, sebab dengan memasang pesan yang banyak justru baliho tersebut telah gagal dan bahkan bisa jadi takada pesan apapun yang sampai dan diingat oleh pembacaya.
Disini ingin kami mengajak semua pihak yang ingin membuat kampanye-kampanye damai di nanggroe Aceh hendaknya bisa mencari para perancang grafis yang saat ini sudah banyak di Aceh dan tidak perlu ke luar Aceh, atau minimal memakai mereka untuk berkonsultasi, sehingga biaya dan kerja keras yang tercurahkan tidak sia-sia. Serahkan segala sesuatu pada ahlinya, mungkin itu kata bijak yang harus dicermati.
No Comments Yet
No comments yet.
Comments RSS TrackBack Identifier URI
Leave a comment





